Part 1: She Knows He Knows

He touched her finger that was still pointed at his chest, "Still manage to scare the day out of me, I see." She smiled. Too sweetly. "Are you trying to get us killed? Not a good day to die, you say?".

How To Cross Road In Margonda

Somebody should publish this kind of booklet long before I even got enrolled in University of Indonesia. Duh! 1. If there's eventually a traffic light for passerby, please DO pay attention. It's not there for decoration purpose (only).

Dream High

Once upon a time, in one particular high school, lived one particular girl student. Let's call her Suzy. Not only that she got the looks, she also had the wealth and singing talent and lots of antis. All things other girls could only imagine.

Story From Far Java

On my last visit to Jogja (seriously this city has something captivating), I happened to visit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat and Kraton Surakarta in one-day-trip to Solo.

Letting Go

The big question of letting go bugged my mind around these last couple of months. Some things.. are they worth to keep, or should I let them go. Think I'm pretty good of letting things go, but when inputs and comments started to coming in, I'd have to reconsider my decision.

Sunday, August 11, 2013

Ayam Suwe

A couple of months ago (seemed seriously like YEARS ago), I was involved in an engagement, nope, not the one prior to any wedding (I wishhhh!), but a project engagement. The time period was typically short, one month and extended into another month. But hell if that was the first time (in a really long time) I felt like jumping out of my 35th floor office cubicle.. not to the ground, mind you, but rather jumping into an embrace of a gentleman (halahhh).

Yeah, anyway, in this so called time-period of the project, semangat nasionalisme gw sangat membara dan I ended up staying at office real late, mostly at 11 PM, but it is not rare that I went home nearing dawn (okeh, lebay). It's all up to my wallet situation, really. When me having no shit, I insisted to go home at 11 PM since it was the last train to catch up.

Standard conversation with the cab driver
Supir: Malem, Mba. Mau dianter ke mana?
Gw: Malem, Pak. Ke stasiun Sudirman ya.
Supir: Loh? Malem-malem gini masih ada kereta, Mba?
Gw: Masih, Pak. Yang terakhir 10 menit lagi.
Supir: APAAAA???

dan taksi pun melaju dengan percepatan yang real impressive.

Every single time. 

Yah anyway, it's not the cab driver that I want to blog about, but rather seekor ayam. Ayam suwe, I called it.

Jadi genee, entah sejak kapan, tetangga gw yang aneh-aneh itu memutuskan untuk memelihara seekor ayam. Ayamnya sejujurnya sampe detik ini gw masih ngga melihat wujudnya, mungkin (alhamdulillah) kami tidak berjodoh, tapi suaranya Oh My Goddd, suaranya akan terus terbawa hingga ke alam bawah sadar gw. Tiap kali beliau berkokok, suaranya mirip ayam ketawa yang lagi ngetren di Sulawesi Selatan sana. Kukuruyukkkk..hehehehehe... gtu deh, mirip-mirip.

Awalnya gw pulang pagi, sekitar jam 2an, ni ayam berkokok pas gw lewat tu rumah. Ah, wajar, udah mau matahari terbit (ya ngga juga sihhh sebenernya), begitu pikirku. Cuek dong.
Trus gw pulang jam 12 malem teng macam Cinderella miskin, lewat tu rumah lagi, dan dia berkokok. Gilak rajin abis ni ayam, orang-orang masih tidur dia udah berkokok. Kampretnya, pas gw pulang jam 7 malem pun, si ayam setan keparat ini berkokok aja gtu. Semacam santai, brayyy! 

Gwnya sih yang ngga sante banget. Ngga tau ya, apa gara-gara pengaruh tu project atau emang gw sensi ama ayam, gw BENCI banget denger kokokan ayam ituh. Ni apa sih, gw bahkan udah berusaha ngga pulang larut-larut malem banget biar beliau ngga kebangun dan berkokok (lagian emang ayam tidur apa?), sungguh sebuah perjuangan.

Rasanya kaya disindir ama ayam, ngerti gak? Pas pulang jam 2 pagi dia berkokok, seolah dia ngomong, "Pagi amat pulangnya, Neng!". Pas pulang jam 12 malem, "Ngga bisa lebih pagi lagi pulangnya?". Pas jam 7 malem, "Tumbeeeennn..."

Wow, gw super tertekan sih waktu itu, hahahaha. Seolah apa pun yang gw lakukan, jam berapa pun gw pulang, GUEHH SELALU SALAH DI MATA AYAM. Bedebah!

Temen kantor gw pernah nelfon gw pas gw udah pulang jam 8an malem, udah nyampe kost, dan tiba-tiba si ayam suwe berkokok. Temen gw ampe ngakak, "Vampir apa gemana tu ayam? Jam segini baru bangun!"

Ya kali..

Untunglah mimpi buruk itu sudah berlalu, project sudah selesai, ayam suwe sudah berkokok dengan normal di siang hari (weird, eh?).

Wednesday, May 8, 2013

Post Travel Effect. Toraja edition

Aigoo... berhubung di luar sana masih macet parah, mari melanjutkan cerita perjalanan tahun lalu, yuk.

Seusai makan Palu Basa.. berangkatlah kita ke Toraja. Fyi, seingat saya, perjalanannya itu memakan waktu 8 jam yah (totally blank) dengan menggunakan bus-bus yang tersedia di berbagai titik di Makassar. Rombongan saya waktu itu memilih Bus Litha yang pangkalannya terletak di jalan di depan sebuah mall yang saya juga lupa namanya. Hahahaha. Harga tiketnya (again, kalo ngga salah) 120 ribu Rupiah, beda tipis dengan yang versi exclusive apalah-apalah yang menyediakan ruang kaki lebih lebar (150 ribu, uhm no thanks). Sepanjang perjalanan tidur, hanya sesekali diselingi rasa puyeng karena bus terasa berputar-putar menaiki gunung.

Tiba di Rantepao sekitar jam 6 pagi. So sweet. Perbedaan cuaca benar-benar jomplang berhubung kita baru panas-panasan di Tanjung Bira, kali ini di Tana Toraja udaranya sejuk macam di Puncak siang-siang. Yang paling sweet adalah di sepanjang perjalanan banyak pohon-pohon Natal yang dibuat ngga pake pohon cemara tapi bambu yang dihiasi lampu warna-warni. Huaaa, lovely December it is. 

Kita langsung diturunkan di depan Hotel Pison. Di Rantepao ini semuanya sih harusnya bisa within walking distance, tapi kalau ngga mau susah, banyak bentor-bentor (i.e. becak motor) yang memasang tarif 5,000 untuk jarak yang dekat tapi ngga dekat-dekat amat. Sebagai anak kota, entah mengapa tujuan pertama adalah mall, dunno why, hanya Tuhan yang tahu. Bapak-bapak yang jadi tour guide di sana hanya terkekeh pas kita nanya mall ada di mana. Dia menunjukkan arah Matahari Dept Store dan eng ing eng... itu bangunan tersedih yang pernah saya lihat yang mengklaim dirinya sebagai mall. Dude, puh-lease. Cat bangunannya ijo kusam, aspal jalanan masuk masih lobang-lobang, isinya juga cuma satu lantai dengan barang-barang seadanya. Bahkan kondisi pasar pun masih lebih mendingan sih daripada Matahari Dept. Store yang ini. Tsk tsk tsk.

Anyway, menurut info yang beredar dari mulut ke mulut (hmmm, mulut ke mulut), akan ada perayaan penguburan di Tana Toraja keesokan harinya. APAAAA? Itu kan event abad ini yang ngga boleh dilewatkan sepanjang sejarahhhh!!! *lebay* Kocak sih, dari rombongan saya, teteup ngga ada yang seniat itu bangun pagi buat nekin tempat pewe untuk menonton upacara adatnya. Kita masih selow-bro mode-on padahal tahu bakal macet banget ke lokasi upacara. Dan hasilnya memang tidak salah, hahahaha.. RAME GILAK tu tempat. Udah gtu, prosesi penguburannya aga blur karena pihak keluarganya kayanya banyak yang udah jadi perantau yah jadi ngga gtu2 amat ngikutin prosesinya. Lucu siy. Salah satu prosesinya adalah mengangkat peti jenasah yang udah ditaruh di semacam kereta gtu (which I can imagine GOTTA BE HEAVY), trus diangkut ke sini ke sana ke situ ke mari diiringi dengan teriakan-teriakan dan tawa canda... semua dengan tujuan agar almarhum bingung dengan arah dan ngga bisa balik ke rumah. Wkwkwkwk. Lucu yak.

Sampai sore kita nongkrong di lokasi penguburan, lumayan ngga enak sih soalnya sodara bukan kenalan juga bukan, tapi akhirnya cuek soalnya wartawan yang ngeliput parah banyaknya. Ada juga yang kinclong di sana, katanya sih pembawa acara jalan-jalan gtu. Auk deh sapa. Kita niatin nunggu sampe acara adu tedong (i.e. adu kerbau) tapi sayang sekaliiii hanya dapet acara penyembelihan kerbau soalnya keburu hujan. Dengar-dengar sih kalo acara penguburannya lumayan besar, bisa sampe 2-3 hari. Wow, amazing! Waktu acara penyembelihan kerbau lumayan ngeri. Soalnya kerbaunya kaya dilonggarkan gtu talinya jadi bisa lari ke sana sini. Semacam matadornya Spanyol, tapi yang versi Toraja, si matadornya bawa golok (._.)

Hujan-hujan akhirnya kita melanjutkan ke tempat makam bayi yang ditaruh di dalam batang pohon. Itu tour guidenya sih amat sangat dedicated sih. Baju udah basah kuyub, teteup aja dong kita disuruh keluar liatin kuburan. Seriously ini wisata kuburan banget judulnya. Why, karena Toraja memakamkan rakyatnya dengan cara yang tidak biasa, yaitu dengan menggali tebing-tebing atau batu-batu besar untuk dimasukkan peti mati. Mungkin menurut mereka, kalau ada cara yang susah, kenapa memilih cara yang gampang?

Saya pernah bertanya kenapa mereka tidak menguburkan keluarganya dengan cara yang standar aja yaitu dimasukkan ke dalam tanah. Tour guidenya jawab, "Soalnya masih banyak tebing di Toraja. Tanah dipakai untuk bertani dan beternak." Oooh.. That's why berhati-hatilah bila menepi di jalan untuk foto-foto di atas batu besar. Karena bisa jadi tu batu adalah kuburan, JENG JENG!!


Sisa hari di Toraja dihabiskan dengan berburu kain Toraja, pernak-pernik Toraja, merambah pasar dan sok-sok-an menawar harga kerbau (150 juta saja, juragan) dan tentunya makan. Makanan paling mengesankan adalah makanan di Hotel Pison, ayam apaa gtu pokoknya kaya dipepes pake bambu. Kalau mau makan itu, kudu mesen dulu beberapa jam sebelumnya biar disiapkan dulu. Enyak deh ikuuu.

Pulang ke Jakarta, kita pun bertukar foto, bertukar cerita, keep in touch..

Wednesday, April 17, 2013

Post-Travel Effect. Makassar edition

Sambil nunggu ujan reda, nulis ah..

Akhir tahun lalu I got the impulse to visit South Sulawesi area. I've been there in 2010, tepatnya ke Makassar and Sorowako, but secara itu assignment dari kantor, ya biasa aja. Akhirnya pas lagi iseng nyusun trip dengan kawan, tercetuslah nama kota Toraja yang terkenal dengan acara penguburannya yang aduhai.

So, kita beli tiket Merpati dan Citilink di tengah tahun yang ujung-ujungnya ngeluarin duit sampe 1.2jt lalu menangis darah pas tau Airasia buka jalur penerbangan baru DANNNN harga tiketnya pp ngga nyampe 400rebu. Bedebah!

Anyway, let's bygone be bygone. Duit yang keluar jangan ditangisi, lebih baik lembur ditingkatkan biar balik modal. HAHAHAHA.

Kesan pertama di Makassar waktu 2010 ternyata saya rasakan juga di 2012, yaitu.. PANAS naudjubillah OMG! Ngga ada setengah menit keluar dari pesawat, langsung berasa terik mentari membakar kulit. Keluar airport, setelah gugel sana-sini, diambil kesimpulan kalo ke tengah kota bisa ngangkot dan kalo keluar dari airport bisa naik DAMRI aja biar gratisan. Norak super sih pas nyobain Damri Bandaranya Makassar, hahahaha, soalnya mikir, "Bayar ngga bayar ngga bayar ngga..." trus siapin duit 20rb di tangan. Ternyata memang ngga bayar dong. Soalnya ampe gerbang bandara doang dan dia langsung muter balik. Doenkkk. For you guys who want to take the DAMRI bus, just head to the right side of the airport once you're outside. Pretty easy. Then after that, take the angkot ke tengah kota.

Pengalaman pertama saya backpacker-an dengan niat ngangkot ya waktu ke Makassar ini. Hahaha. Orang-orangnya ramahhhh.. waktu nanya arah ke supir, eh satu angkot langsung ngobrol dong. Semuanya diskusi tentang best route to go to the bus terminal. Hahaha. ~Nice

Yang paling nyebelin adalah supir2 angkot yang suka ngebohong tentang ongkos. Triknya ya paling nanya dulu sama sesama penumpang biaya angkotnya. Easy lah if you can talk to the local.

Di Makassar, saya cuma numpang lewat ajah soalnya tujuan utama adalah Tanjung Bira. Dari terminal Malengkeri (bacanya: Melengkeri dengan semua huruf E dilafalkan ala Batak), ada banyak angkot2 yang sebenernya mobil2 Avanza dkk. Mereka ini normalnya ngangkut orang ke Bira dengan tarif 60rb per orang. No AC, jendela kebuka, asap rokok dan masuk angin karena cara nyetir orang Makassar tu maut banget. But unfortunately (?), at that time, since there's four of us, we chartered the card at 400K IDR (yang akhirnya bikin malu soalnya ketemu bule2 di pulau Liukang yang cerita kalo mereka bayar 250K utk bertiga. WHAT? Our bargaining skill sucks!). Akhirnya kami langsung jalan ngga pake ngetem, ngga ngangkut orang di tengah jalan, dan bisa dianterin ke pelabuhannya langsung.

Then, dari Bira, langsung nelfon2 PIC yang punya penginapan di pulau Liukang. Best island everrr.. suka abis sama pantainya yang sepi, lautnya yang udah kaya private bathtub di depan cabin kita. Sama pengalaman snorkeling yang ngga perlu nyemplung. Standar pantai langsung jadi tinggi abis balik dari Pulau Liukang ini.

Untuk contact personnya, bisa menghubungi Bapak Ramli (+6281342578515 atau +6282190889751). Waktu Desember 2012 kemarin, harga per kamarnya 250rb untuk dua orang. Kamar mandi oke dan air juga lumayan paling tawar dari semua island resort (kek udah sering aja nginep di pulau)

Di pulau Liukang, ketemu bule-bule dari Romania bertiga, dua cowo dan satu cewe, satunya pasangan, satunya lagi temenan. Awww.. Percakapan cukup goblok, berkisar, "Is that true your country has dracula?" "Ow.. you mean Transylvania?" HAHAHAHHAHA... doenkkk.. memalukan.

Sungguh sangat keren ngobrol sama orang2 yang cuti sebulan dua bulan dari kantornya, just to travel around the world. MAOOO!!! Mereka headed east from their homeland, dari Pulau Liukang di Sulawesi, Pulau Key di deket Flores NTT sana (they send us the picture, damn gorgeous beach), trus ke Pulau Komodo, Lombok, Bali, dst dst..

Sigh.

Anyway, back from Pulau Liukang, we got to spend one more day di Tanjung Bira. Gilak pasirnya gilaaaakkkk, putih kaya tepung. Tapi buat kamu-kamu yang lebih prefer quieter beach, go ahead to Bara beach instead. It's located right next to Pantai Bira. Technically we could just walk along the beach line to reach Bara beach, HOWEVER, the tide was pretty strong and it's high tide already, so unless you wish to be the latest drown victim, we took the normal way. Ask the local around, and they'll tell you how to get there. Just walk along a path, for about 3km, passing through the tropical forest with its monkeys (trust me, the monkey is harmless. Just walk straight ahead. Balinese monkey has truly given all monkey race a bad name, SHAME ON YOU, Uluwatu monkey!).

After some scary but funny experience with the monkeys, we arrived on Bara beach.. HELLO paradise on earth. It's quiet, it's huge, and there's only one running resort there. Dang, I forgot the name of the owner, but her resort is pretty. She had A LOT of stories as well, as a German widowed (she's Indonesian btw), she owned the resort and run it with the help of her son. Her son is still staying in Deutschland, fyi).

Next, we took the chartered car back to Makassar. It's normally 4 hours trip, so please schedule your time wisely. Not learning from experience, we still paid 400K *sigh* but this time we INSISTED to turn on the AC and no to smoke in the car. HAHAHAHA. The driver is kind enough since he took us to places in Bira that we haven't visited yet (such as the Phinisi ship factory, pretty damn cool ship!).

Arrived at Makassar... lah iki kenapa jadi bahasa Londo begini tiba-tiba? Karena janjian dengan seorang teman lainnya yang bela-belain ikutan dari Timika, Papua, akhirnya saya dan kawan-kawan memutuskan untuk kopi darat sambil mencoba Palu Basa Serigala. Nope, it's not wolf meat, it's just located at Jl. Serigala. Dan ternyata daerah sekitarnya penuh dengan nama-nama hewan, hihihi.. Jalan Harimau,  Jalan Kuda, dll. Lucu yak.

Next trip, we're headed to Tana Toraja. Ntar ah dilanjutkan ke part 2. Hujan udah reda nih.

Wednesday, January 2, 2013

Drama

Happy New Year, kawan!

Masih dalam semangat blogging dalam bahasa Nusantara, saya masih akan mengusung posting kali ini bertema drama dan pertemanan *halah* dengan mayoritas menggunakan Endonesia.

Kapan itu yah di social media saya pernah ngomong kalo, "I need drama in my life" saking basi dan plain-nya hidup saya kala itu (kek kali ini ngga ajah). Tapi sejujurnya, saya tidak suka drama. Sebisa mungkin saya menghindar jauh-jauh dan mengucap kata, "pahit, pahit" kalo sedang ada drama di sekitaran saya. Mengapa? Karena kapasitas memori saya terbatas. Itu aja sih. Hahahaha. Percayalah kawan, saya adalah orang terbaik dalam menyimpan rahasia (mostly) soalnya pasti langsung lupa besoknya. Kekekekekekeke.

Drama paling menyenangkan yang saya sukai adalah yang ngga drama-drama amat. Misalnya, kemarin waktu jalan-jalan ke Makassar dan Liukang, tiba-tiba saya mengidam ingin makan pisang goreng. Ih, pas sampai di pulau, beneran looohhhhh disediain sama yang punya penginapan. ~impressive. Trus mumpung masih dalam suasana Natal (err..) saya langsung saja mengidamkan roti bakar. Jreng jreng, besoknya pas kembali ke Tanjung Bira, si hotel menyediakan roti bakar sebagai sarapan. ~IMPRESSIVE, HAAAA????? Tapi mengapa oh mengapa sampai saya ke Tana Toraja dan Jakarta, idaman saya yang terakhir yakni ketemu Ryan Gosling belum kesampaian juga. Anak-anak bilang yah siapa tahu seenggaknya sopir yang nganterin kita bernama Haji Rian Untung. ~kamfred.

Yah demikianlah drama yang bisa saya tanggulangi. Cupu memang. Tapi hidup ini kan berat, mengapa dibuat makin berat, no?

Nah, pas perjalanan kembali ke Jakarta, saat di bus, dengan mood lumayan rendah karena berbagai sebab alamiah seperti kurangnya toilet dan nafsu makan di saat yang bersamaan, saya dan kawan saya mendengarkan pembicaraan Bapak-bapak di depan kita agak ke kiri sedikit. Bukan menguping lho, soalnya si Bapak sok heboh gitu setiap kali mengangkat telfon. Entah apa maksudnya. Begini kira-kira kupingan yang sempat kita tangkap.

Bapak: HALO? YA? SBY sudah diamankan. Ya, ya, di dibawa langsung saja ke lokasi.
Saya: *Heh???*
Bapak: *another phone call* HALO? YA? Iya itu SBY sudah saya dengar tadi. Tolong tanggapi saja laporannya.
Saya: *mulai kagum, jangan-jangan intel*
Bapak: *lagi-lagi deringan lain* HALO? YA? APA? Ayam? Sabung Ayam? Belakang gereja? HALO? Ini siapa ya?
Saya: *ngakak*

Itu Bapak-bapak lumayan menghibur sih, kawan saya yang sebenernya mabok darat jadi ketawa-ketawa juga dan akhirnya sedikit beban hidupnya terlepas *what?*

Perjalanan itu, katanya, yang penting sebenernya teman perjalanannya bukan tujuannya. Okeh, tujuannya juga penting tapi kalo teman seperjalanan basi, perjalanan kita bisa jadi basi juga. Betul? Tapi kalau saya sih.. ignorance activated kalau ada yang mulai basi atau mulai drama. ~Ahhh, maafkan akuuu bukan teman jalan yang baik.

Jadi ini inti paragraf di atas apa, saya juga kurang mengerti. Maklum pola pikir saya suka campur aduk dan tidak ada objektif yang jelas.

Drama terakhir yang cukup kurang penting nan tiada esensinya saya alami di malam Tahun Baru kemarin (anyway kenapa ya Tahun Baru itu T dan B-nya harus digedein?) di bawah hujan gerimis, teriak-teriak di depan kost orang, sambil yang empunya kost kepo-kepo megang payung, "Apa sih? Apa sih?" (bukan Dipo). Kalau diingat-ingat lagi kita sungguh seperti main sinetron. Hahahahaha. Seru juga.

Demikian versi kasar dari drama kemarin, harap diresapi soalnya kita ngomongnya tereak2 biar seru:

Saya: Ya salah elo lah nyong!!!
Dia: Hah??? Gw yang salah?? Di mana salahnya gw coba jelasin!
Saya: Ya kenapa lo plinplan!!!
Dia: Hah?? PlinPlan??? GUEEEEEE????
Empunya Kost: Apa sih? Apa sih?
Saya: IYA! Elu plinplan, ngga to-the-point! Udah ah ngga mau ikut-ikut!
Dia: Gw kurang to-the-point apaaa??
Saya: Ya kan ngeri kaleee..
Dia: WHAT? Yang mulai sapa emangnyeee??? Perasaan sih gw biasa aja..
Saya: Aaargh, ngga tau ah!! Bodo!
Empunya kost: Apa sih? Apa sih?
Dia: Terus bilang apa?
Saya: Ya bodo amat, elu yang cari tau sendiri.
Empunya kost: APA SIH??? APA SIH???

Ya gitulah kira-kira. Sungguh percakapan yang sangat menyesatkan. Ditambah dengan ingatan dan pendengaran saya yang super lemah, jadinya saya agak lupa esensi percakapan itu, cuma ingat teriak2nya aja yang seru. Hahahahaha.