Part 1: She Knows He Knows

He touched her finger that was still pointed at his chest, "Still manage to scare the day out of me, I see." She smiled. Too sweetly. "Are you trying to get us killed? Not a good day to die, you say?".

How To Cross Road In Margonda

Somebody should publish this kind of booklet long before I even got enrolled in University of Indonesia. Duh! 1. If there's eventually a traffic light for passerby, please DO pay attention. It's not there for decoration purpose (only).

Dream High

Once upon a time, in one particular high school, lived one particular girl student. Let's call her Suzy. Not only that she got the looks, she also had the wealth and singing talent and lots of antis. All things other girls could only imagine.

Story From Far Java

On my last visit to Jogja (seriously this city has something captivating), I happened to visit Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat and Kraton Surakarta in one-day-trip to Solo.

Letting Go

The big question of letting go bugged my mind around these last couple of months. Some things.. are they worth to keep, or should I let them go. Think I'm pretty good of letting things go, but when inputs and comments started to coming in, I'd have to reconsider my decision.

Wednesday, January 2, 2013

Drama

Happy New Year, kawan!

Masih dalam semangat blogging dalam bahasa Nusantara, saya masih akan mengusung posting kali ini bertema drama dan pertemanan *halah* dengan mayoritas menggunakan Endonesia.

Kapan itu yah di social media saya pernah ngomong kalo, "I need drama in my life" saking basi dan plain-nya hidup saya kala itu (kek kali ini ngga ajah). Tapi sejujurnya, saya tidak suka drama. Sebisa mungkin saya menghindar jauh-jauh dan mengucap kata, "pahit, pahit" kalo sedang ada drama di sekitaran saya. Mengapa? Karena kapasitas memori saya terbatas. Itu aja sih. Hahahaha. Percayalah kawan, saya adalah orang terbaik dalam menyimpan rahasia (mostly) soalnya pasti langsung lupa besoknya. Kekekekekekeke.

Drama paling menyenangkan yang saya sukai adalah yang ngga drama-drama amat. Misalnya, kemarin waktu jalan-jalan ke Makassar dan Liukang, tiba-tiba saya mengidam ingin makan pisang goreng. Ih, pas sampai di pulau, beneran looohhhhh disediain sama yang punya penginapan. ~impressive. Trus mumpung masih dalam suasana Natal (err..) saya langsung saja mengidamkan roti bakar. Jreng jreng, besoknya pas kembali ke Tanjung Bira, si hotel menyediakan roti bakar sebagai sarapan. ~IMPRESSIVE, HAAAA????? Tapi mengapa oh mengapa sampai saya ke Tana Toraja dan Jakarta, idaman saya yang terakhir yakni ketemu Ryan Gosling belum kesampaian juga. Anak-anak bilang yah siapa tahu seenggaknya sopir yang nganterin kita bernama Haji Rian Untung. ~kamfred.

Yah demikianlah drama yang bisa saya tanggulangi. Cupu memang. Tapi hidup ini kan berat, mengapa dibuat makin berat, no?

Nah, pas perjalanan kembali ke Jakarta, saat di bus, dengan mood lumayan rendah karena berbagai sebab alamiah seperti kurangnya toilet dan nafsu makan di saat yang bersamaan, saya dan kawan saya mendengarkan pembicaraan Bapak-bapak di depan kita agak ke kiri sedikit. Bukan menguping lho, soalnya si Bapak sok heboh gitu setiap kali mengangkat telfon. Entah apa maksudnya. Begini kira-kira kupingan yang sempat kita tangkap.

Bapak: HALO? YA? SBY sudah diamankan. Ya, ya, di dibawa langsung saja ke lokasi.
Saya: *Heh???*
Bapak: *another phone call* HALO? YA? Iya itu SBY sudah saya dengar tadi. Tolong tanggapi saja laporannya.
Saya: *mulai kagum, jangan-jangan intel*
Bapak: *lagi-lagi deringan lain* HALO? YA? APA? Ayam? Sabung Ayam? Belakang gereja? HALO? Ini siapa ya?
Saya: *ngakak*

Itu Bapak-bapak lumayan menghibur sih, kawan saya yang sebenernya mabok darat jadi ketawa-ketawa juga dan akhirnya sedikit beban hidupnya terlepas *what?*

Perjalanan itu, katanya, yang penting sebenernya teman perjalanannya bukan tujuannya. Okeh, tujuannya juga penting tapi kalo teman seperjalanan basi, perjalanan kita bisa jadi basi juga. Betul? Tapi kalau saya sih.. ignorance activated kalau ada yang mulai basi atau mulai drama. ~Ahhh, maafkan akuuu bukan teman jalan yang baik.

Jadi ini inti paragraf di atas apa, saya juga kurang mengerti. Maklum pola pikir saya suka campur aduk dan tidak ada objektif yang jelas.

Drama terakhir yang cukup kurang penting nan tiada esensinya saya alami di malam Tahun Baru kemarin (anyway kenapa ya Tahun Baru itu T dan B-nya harus digedein?) di bawah hujan gerimis, teriak-teriak di depan kost orang, sambil yang empunya kost kepo-kepo megang payung, "Apa sih? Apa sih?" (bukan Dipo). Kalau diingat-ingat lagi kita sungguh seperti main sinetron. Hahahahaha. Seru juga.

Demikian versi kasar dari drama kemarin, harap diresapi soalnya kita ngomongnya tereak2 biar seru:

Saya: Ya salah elo lah nyong!!!
Dia: Hah??? Gw yang salah?? Di mana salahnya gw coba jelasin!
Saya: Ya kenapa lo plinplan!!!
Dia: Hah?? PlinPlan??? GUEEEEEE????
Empunya Kost: Apa sih? Apa sih?
Saya: IYA! Elu plinplan, ngga to-the-point! Udah ah ngga mau ikut-ikut!
Dia: Gw kurang to-the-point apaaa??
Saya: Ya kan ngeri kaleee..
Dia: WHAT? Yang mulai sapa emangnyeee??? Perasaan sih gw biasa aja..
Saya: Aaargh, ngga tau ah!! Bodo!
Empunya kost: Apa sih? Apa sih?
Dia: Terus bilang apa?
Saya: Ya bodo amat, elu yang cari tau sendiri.
Empunya kost: APA SIH??? APA SIH???

Ya gitulah kira-kira. Sungguh percakapan yang sangat menyesatkan. Ditambah dengan ingatan dan pendengaran saya yang super lemah, jadinya saya agak lupa esensi percakapan itu, cuma ingat teriak2nya aja yang seru. Hahahahaha.